Rabu, 25 Februari 2015

Mau Pahala Semiliar dalam Sekejap? Mintakan Ampunan Untuk Suadara Seiman!

Mau Pahala Semiliar dalam Sekejap? Mintakan Ampunan Untuk Suadara Seiman!

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.
Istighfar memiliki keutamaan yang agung dan banyak sekali. Istighfar bisa menjadi sebab datangnya keberkahan pada rizki, keturunan, dan kekuatan. Istighfar juga menjadi sebab turunnya pertolongan Allah dan solusi dari problematika yang dihadapi hamba. Cukup banyak nash Al-Qur'an dan hadits menerangkannya.
Perintah istighfar bukan saja ditujukan untuk dosa mustaghfir (orang yang beristighfar). Tapi juga diperintahkan untuk dimintakan bagi saudara seiman. Sejumlah ayat menunjukkan akan anjuran istighfar model ini.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)
Doa Nabiyullah Ibrahim dan Nuh ‘alaihima al-salam menjadi bukti akan keutamaan istighfar untuk kaum mukminin dan mukminat.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“(Doa Nabi Ibrahim): Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".” (QS. Ibrahim: 41)
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan".” (QS. Nuuh: 28)
Allah mengabadikan sifat Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Al-Qur'an, yang salah satu sifat mereka suka mendoakan kebaikan kepada saudara seiman mereka.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".” (QS. Al-Hasy: 10)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di berkata dalam menafsirkan doa ini, “Doa ini mencakup semua kaum mukminin, terdahulu dari kalangan sahabat, orang sebelum dan sesudah mereka. Ini merupakan bagian dari keutamaan iman, bahwa kaum mukminin sebagian mereka mengambil manfaat dari sebagian yang lain, sebagian mereka mendoakan kebaikan untuk sebagian yang lain karena sebab sama-sama beriman. Di mana iman ini mewajibkan adanya ikatan persaudaraan antar kaum mukminin yang di antara cabangnya adalah sebagian mereka mendoakan kebaikan untuk sebagian yang lain dan sebagian mereka mencintai sebagian yang lain.”
Memohonkan ampunan untuk kaum mukminin adalah bagian dari mendoakan kebaikan untuk mereka. Ini merupakan hak persaudaraan seiman. Yaitu berharap agar Allah memberikan ampunan atas dosa-dosa mereka dengan dihilangkan dosa tersebut dan hukuman atasnya dari mereka.
Tentang keutamaan istighfar untuk kaum mukminan ini ditunjukkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً
“Siapa yang beritighfar (memintakan ampunan) untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan maka Allah mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum muminin dan mukminat.”(HR. al-Thabrani dan dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’. Al-Haitsami berkata tentangnya dalam Majma’ al-Zawaid: sanadnya baik)
Ini dikuatkan dengan keterangan lain, bahwa siapa yang mendoakan saudara muslimnya tanpa diketahui oleh yang didoakan maka ada malaikat yang mengaminkan doanya tersebut dan mendoakan kebaikan semisalnya untuk dirinya.
Dari Abu Darda’ Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim)
Keutamaan yang besar ini diberikan kepada mereka yang memiliki sifat rahmah kepada saudara seimannya, menginginan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Sehingga rahmah yang diberikannya kepada saudaranya seiman menjadikan rahmah dari Dzat yang dilangit turun kepadanya. Bahkan lebih dari itu, pahala melimpah sebanyak orang beriman yang mendapat kebaikan dari doanya tersebut akan diperolehnya.
Ini menuntut dirinya memiliki sifat nush (suka menasihati) mereka. Menyukai kebaikan untuk mereka sebagaimana ia menyukai kebikan itu untuk dirinya sendiri. Ia membenci keburukan atas mereka sebagaimana ia benci keburukan itu menimpa dirinya. karenanya, ia semengat menyuruh mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perkara-perkara yang membahayakan mereka. Memaafkan kesalahan dan kekeliruan mereka. Ia semangat menjalin ikatan hati dan menghilangkan kedengkian terhadap mereka yang ini bisa menyebabkan perpecahan dan permusuhan, di mana hal ini menyebabkan terjadinya doa dan maksiat. (Diringkas dari keterangan Syaih al-Sa’di dalam Taisir al-Karim al-rahman, tafsir QS. Muhammad: 19) Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2014/05/29/30660/mau-pahala-semiliar-dalam-sekejap-mintakan-ampunan-untuk-suadara-seiman/#sthash.glOGmmVe.dpuf

Perbanyaklah Doa Saat Turun Hujan!

Perbanyaklah Doa Saat Turun Hujan!

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Air adalah salah satu nikmat Allah yang sangat agung. Ia menjadi sumber kehidupan manuisa, hewan, dan tumbuhan. Semuanya tidak bisa lepas dari air. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya': 30)
Allah telah menyediakan nikmat ini untuk makhluk-makhluk-Nya di bumi. Sumbernya ada yang keluar dari tanah, turun dari langit (hujan), atau mengalir di sungai dan lautan.
. . . air hujan yang turun dari langit ini adalah air penuh berkah. Yakni banyak mengandung kebaikan . . .
Air Hujan salah satu nikmat yang banyak Allah sebutkan dalam Al-Qur'an. Manfaat dan kegunaannya sangat banyak, tidak diketahui detailnya kecuali oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah mengabarkan, Dia menghidupkan bumi yang mati dan kering melalui guyuran hujan. Airnya menghidupkan bumi & menghijaukannya.
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ
“Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan.” (QS. Al-Baqarah: 164)
Dengan sebab hujan, Allah menumbuhkan tanam-tanaman, sayur-mayur dan buah-buahan sebagai sumber makanan, “dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 21)
Maka air hujan yang turun dari langit ini adalah air penuh berkah. Yakni banyak mengandung kebaikan. Ia bisa menyucikan bumi dari kotorannya, membersihkan badan dari kotoran debu & najis. Ia adalah air suci secara dzat & menyucikan yang lain.
Kita lihat dalam Sunnah, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat berharap banyak kebaikan pada hujan yang Allah turunkan. Beliu berdoa saat melihat hujan yang lebat,
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
"Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat -kebaikan-." (HR. Al-Buhari, dari hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha)
Dalam riwayat Muslim, dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, “Dan apabila  'Alaihi Wasallam melihat hujan, beliau membaca: RAHMAH (ini adalah rahmat). (HR. Muslim)
. . . hujan adalah rahmah . . .
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga pernah menyibakkan bajunya agar tubuh beliau terkena air hujan. Saat beliau ditanya tentangnya, beliau menjawab:
لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى
“Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah Ta’āla ciptakan.” (HR. Muslim)
Hal ini, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi, karena hujan adalah rahmah. Baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala, maka beliau meminta berkah melaluinya. Caranya dengan membasahi sebagian badan beliau dengan air berkah ini.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga mengajarkan agar memuji Allah 'Azza Wa Jalla, “Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Selain itu, beliau juga mengajarkan agar berdoa kepada Allah & meminta kebaikan kepada-Nya saat turun hujan. Karena saat itu termasuk waktu yang mustajab. Maka dianjurkan bagi setiap muslim memperbanyak pada waktu tersebut.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ وَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَنُزُوْلِ الْغَيْثِ
"Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan." (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak: 2/114 dan dishahihkan olehnya. Lihat Majmu' fatawa: 7/129. Al-Albani menghassankannya dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1469 dan Shahih al-Jami' no. 1026)
Dalam Shahih al-Jami’ Al-Shaghir yang berstatus hasan, disebutkan redaksi yang lain, “Dua kondisi yang tidak akan ditolak doa; saat adzan dan dibawah guyuran hujan.”
Menurut al-Munawi, maksudnya adalah tidak ditolaknya doa di bawah guyuran hujan, atau jarang sekali ditolak. Karena saat itu adalah waktu turunnya rahmah. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2014/11/26/34102/perbanyaklah-doa-saat-turun-hujan/#sthash.QXX1chRT.dpuf